Fredy Marojaya Aritonang
shalom .

Belajar dari sahabat, keluarga. Banyak perubahan, hasil dari proses yang lu lakuin. proses dimana lu tetep setia dan taat ama rancangan Tuhan. Seorang pelayan yang rendah hati, ga banyak omong, tapi impact dari kerjaan dan keberadaan lu sangat besar. pelayan yang tidak egois, bahkan di saat tergenting pun lu tetep mikirin temen-temen lu. di saat-saat perubahan besar seperti ini, sesuatu hal besar terjadi, suatu hal yang mengubah hidup lu. Jujur saya sendiri tidak mengerti tentang rencana Tuhan yang ingin ia kerjakan dalam hidup lu. di saat-saat lu sedang on fire, menyerahkan seluruh hidup lu untuk di proses, Dia mengambil orang tersayang dalam hidup lu. “Bapak meninggal”.

Lu kuat, mencoba menahan nangis dan sedih walaupun wajahlu, senyum paksaan lu gabisa nutupin kesedihan lu. hal ini mengingatkan saya tentang ayub. dimana dia sedang di proses, bertumbuh dalam Tuhan, Dia izinkan sesuatu hal yang besar terjadi dalam kehidupannya. anak isterinya pergi, harta-kekayaannya hilang. sakit memang mengetahui orang yang kita sayang, orang yang sedari lahir kita panggil “Bapak” pergi tiba-tiba. apalagi jika kita sedang tidak ada di sampingya.

belajar sangat banyak, kekuatan untuk tidak mau menyusahkan orang lain, kekuatan untuk tidak meninggalkan tanggung jawab di saat berduka seperti ini. Bahkan masih sempet-sempetya lu sms anak danus, untuk mengingatkan danus nasi goreng untuk hari sabtu. 28 april kita memang mendanus nasi goreng, tapi sama sekali ga ada feel.

Lu kuat, tapi sekuat apapun lu jangan pernah mengandalkan ketahanan untuk menutupi kesedihan lu. menangislah jika itu memang perlu, satu yang saya tahu “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur”  Dia Bapa yang akan memberikan penghiburan sejati. Dia tau kalo lu kuat, dan lu telah diperlengkapi 100%, makanya Ia izinkan ini terjadi dalam proses hidup lu.

Cepat atau lambat kita semua harus menghadapi kematian orang yang kita kasihi. Tetapi, Kristus pasti menghibur di masa kehilangan ini. Maafkan saya jika harus mengungkapkan pengalaman pribadi, beberapa tahun yang lalu saya kehilangan kakak saya yang meninggal karena usus buntu dan saya tahu pasti apa yang saya katakan ini adalah benar adanya. Saat kematian datang menjemput seseorang yang kita kasihi, rasa sakit yang kita rasakan memang kadang-kadang hampir tak tertahankan. Kita tidak perlu takut untuk menyatakan perasaan kita kepada Allah tentang apapun yang kita rasakan: kemarahan, frustasi, takut, terluka, perasaan ditinggal sendirian, dsb. Lebih baik perasaan ini diungkapkan daripada di tekan

Penghiburan dari Bapa tidak berarti air mata kita akan kering, atau kesedihan kita tiba-tiba berhanti. Hal ini adalah proses alami yang memiliki efek menyembuhkan yang kuat. Penghiburan ilahi berarti kita akan merasakan Allah ada di sana di tengah air mata dan kesedihan kita. Rasa sakit memang harus dihadapi dan dijalani, termasuk rasa sakit ketika harus mengucapkan “selamat berpisah”.

Tuhan Yesus akan memimpin lu dengan lembut melewati jalan yang harus ditempuh. Kehadiran Kristus justru lebih kuat dan lebih menghiburkan di saat lu kehilangan orang yang lu kasihi. Dia memberikan hal yang paling berharga ketika bagian terpenting dari hidup kita ambil.

“Ya Allah Bapaku, betapa aku berterima kasih karena Engkau menerima diriku apa adanya. Aku berpaling kepada-Mu dalam kesedihan dan meminta agar Engkau meletakkan tangan-Mu di tanganku dan tinggallah dekat bersamaku saat aku menjalalani kesedihan ini. Jadilah penghiburku yang sejati di tengah kesedihanku. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.”

dengan berani menulis seperti ini, berarti saya juga harus bisa memegang apa yang saya percaya. Lu kuat, dan lu bisa Fernando Sinaga.

SHALOM, SHALOM, SHALOM. (cepet balik ke Bogor do)